Diplomasi Ekonomi Indonesia

  • October 23, 2020

Diplomasi Ekonomi – Globalisasi ekonomi telah “memaksa” banyak negara untuk mempelajari politik luar negerinya agar dapat terus memajukan kehidupan ekonomi rakyatnya. Hubungan ekonomi suatu negara dan perdagangan internasional memainkan peran penting dalam hubungan luar negeri.

Memang, hubungan internasional kontemporer menunjukkan perlunya kebijakan luar negeri (the need for foreign policy). Ini tentang mengubah diplomasi tradisional yang digunakan menuju diplomasi multi sektor dan multi level (multi level diplomacy). Dengan kata lain, kebutuhan dasar negara akan hubungan internasional dengan mendefinisikan kembali makna diplomasi politik luar negerinya.

 Diplomasi multilevel juga berarti diplomasi ekonomi akan berjalan pada tiga tingkatan: a) bilateral; B) regionalisme; C) Multilateral. Globalisasi ekonomi yang terus mempengaruhi dunia menjadikan peran diplomasi ekonomi sebagai alat penting dalam politik luar negeri.

Diplomasi ekonomi Memang benar tidak ada definisi tunggal yang ketat tentang diplomasi ekonomi. Namun diplomasi ekonomi dapat diartikan sebagai perumusan dan pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan produksi, peredaran atau pertukaran barang, jasa, tenaga kerja, dan investasi pada orang lain. negara. GR Berridge dan Alan James menafsirkan konsep ini sebagai upaya terorganisir oleh negara untuk menggunakan sumber daya ekonomi, sebagai imbalan dan sebagai sanksi, dalam mengejar tujuan kebijakan luar negeri tertentu. Kedua dunia tersebut seringkali menyamakannya dengan kebijakan ekonomi.

Diplomasi ekonomi membahas setidaknya tiga pertanyaan penting: Hubungan antara ekonomi dan politik. Hubungan antara lingkungan dan berbagai tekanan nasional dan internasional; Serta hubungan antara aktor pemerintah dan non-pemerintah (swasta / swasta).

 Pertanyaan pertama menyangkut kondisi di tengah intensitas yang berubah dan kompleksitas yang meningkat dari ketiga moda interaksi tersebut, serta masalah ekonomi global yang semakin kompleks, dan hubungan ekonomi dan politik yang seringkali gagal. Beberapa kasus menunjukkan bahwa isu politik menjadi penghambat hubungan ekonomi atau diplomasi negara.

Di sisi lain, banyak kasus yang terjadi, dimana hubungan ekonomi suatu negara dengan negara lain terbentuk secara efektif terlepas dari hubungan politik yang mengikatnya. Pertanyaan kedua berkaitan dengan tingkat perekonomian nasional sebagai dasar alat kebijakan ekonomi luar negeri (foreign economic policy).

Dalam konteks ini, rendahnya persiapan internal seringkali menjadi batu untuk meningkatkan diplomasi ekonomi suatu negara. Hal ini dimaknai sebagai buruknya persiapan domestik suatu negara atau sering diartikan sebagai daya saing negara yang lebih rendah di bidang ekonomi dan perdagangan dibandingkan dengan negara lain.

Oleh karena itu, tingkat kesiapan dan daya saing internal suatu negara juga akan menentukan kapasitas dan kapasitas perekonomian nasional negara tersebut dalam percaturan ekonomi dan politik global. Pertanyaan ketiga menyangkut kapasitas negara dan sektor swasta dalam hubungan ekonomi / perdagangan internasional.

 Semakin harmonisnya hubungan antara pemerintah (negara) dan swasta, serta semakin tinggi tingkat koordinasi hubungan antar instansi pemerintah dan non pemerintah maka akan berdampak positif terhadap efektifitas diplomasi ekonomi. Di sisi lain, banyak kasus di negara berkembang, termasuk Indonesia, menunjukkan masih lemahnya hubungan dan lemahnya koordinasi antara lembaga pemerintah dan swasta.

Perekonomian Indonesia Melihat perbedaan isu tersebut, salah satu isu utama yang harus diangkat untuk memanfaatkan peluang non-tradisional adalah penciptaan dan implementasi rencana bisnis terpadu antara lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Dengan kata lain, kemitraan antarlembaga sangat penting untuk memasuki pasar secara lebih efektif.

Lebih khusus lagi, perlunya membangun segitiga sinergi antar instansi pemerintah; Difusi; Antara pemerintah dan swasta, itu strategis. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa berbagai kebijakan yang dihasilkan dapat diterapkan, berorientasi, dan saling melengkapi.

Indonesia perlu lebih serius memikirkan pentingnya diplomasi ekonomi yang berkelanjutan dan berjangka panjang. Tren hingga saat ini diplomasi ekonomi Indonesia tetap bersifat interaktif dan sporadis. Kegagalan kita untuk menghasilkan diplomasi ekonomi yang komprehensif, inklusif, dan berjangka panjang hanya akan menghasilkan produk ekspor yang terbatas. Sebaliknya jika kita dapat meningkatkan diplomasi ekonomi maka akan berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan kapasitas dan kapabilitas perekonomian nasional Indonesia yang saat ini sedang menurun.

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*